Preeclampsia with Severe Features & Impending Eclampsia
Preeklampsia dengan Ciri Berat & Impending Eklamsia
Sindrom multisistemik spesifik kehamilan akibat disfungsi endotel maternal dan hipoperfusi plasenta, ditandai tekanan darah >= 160/110 mmHg atau adanya disfungsi organ target maternal.
Kegagalan invasi gelombang kedua sitotrofoblas ekstravilus ke dalam arteri spiralis miometrium memicu pelepasan faktor anti-angiogenik berlebih (sFlt-1 dan soluble endoglin) yang menetralisir VEGF dan PlGF. Hal ini memicu disfungsi sel endotel sistemik, vasospasme difus, kebocoran kapiler, dan mikroangiopati trombotik.
- ✓Tekanan darah sistolik >= 160 mmHg atau diastolik >= 110 mmHg pada 2 kali pengukuran berjarak minimal 15 menit.
- ✓Trombositopenia: jumlah trombosit < 100.000 / mikroL.
- ✓Gangguan fungsi hepar: peningkatan enzim transaminase serum (SGOT/SGPT > 2 kali batas atas normal) atau nyeri kuadran kanan atas / epigastrik persisten yang tidak merespons analgesik.
- ✓Insufisiensi ginjal progresif: kreatinin serum > 1.1 mg/dL atau peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin tanpa penyakit ginjal sebelumnya.
- ✓Edema paru (pulmonary edema).
- ✓Gejala neurologis / serebral awitan baru: nyeri kepala hebat yang tidak membaik dengan analgesik biasa, gangguan visual (skotoma, fotofobia, amaurosis fugax), hiperrefleksia klonus (impending eclampsia).
Atlas Patofisiologi Preeklampsia Berat: Kegagalan Remodeling Arteri Spiralis
Placental Pathology & Preeclampsia Microvascular Atlas • ObGyn Wondera Academic Atlas

Patologi histovaskular plasenta: perbandingan remodeling vaskular normal (invasi trofoblas endovaskular menggantikan tunika muskularis) versus plasentasi defektif preeklampsia (arteri berdiameter sempit, tahanan tinggi, aterosis akut, dan pelepasan berlebih sFlt-1).
Alur Penyelidikan & Pemeriksaan Penunjang
- •Darah lengkap (Hb, Ht, Trombosit)
- •Kreatinin serum & Asam Urat
- •SGOT & SGPT
- •Urin protein (rasio protein-kreatinin urin / P-C ratio atau dipstick)
- •Ultrasonografi fetomaternal (biometri janin, indeks cairan amnion / AFI)
- •Doppler velocimetri arteria umbilicalis dan arteria uterina
- •Rontgen toraks (bila dicurigai edema paru)
- •Biomarker rasio sFlt-1/PlGF
- •Profil koagulasi (PT, aPTT, Fibrinogen, D-Dimer jika suspek solusio plasenta/DIC)
- •LDH serum (penanda hemolisis mikroangiopatik)
Algoritma Tata Laksana Komprehensif
Stabilisasi ABC, pasang kateter urin menetap (Foley) untuk pantau diuresis, pasang akses vena kaliber besar (16-18G), dan pasang monitor tanda vital kontinu.
- 💊Profilaksis Kejang: Magnesium Sulfat (MgSO4) protokol Zuspan: Loading dose 4 gram IV (larutan 20% atau 40%) habis dalam 15-20 menit, dilanjutkan dosis rumatan (maintenance) 1 gram/jam IV kontinu selama 24 jam pascapersalinan atau kejang terakhir.
- 💊Antihipertensi Kedaruratan (TD >= 160/110 mmHg): Nifedipine oral 10 mg (dapat diulang tiap 20-30 menit, maks 30 mg) ATAU Nicardipine infus drip IV mulai 5 mg/jam dititrasi naik 2.5 mg/jam tiap 15 menit (maks 15 mg/jam) ATAU Labetalol IV bolus (jika tersedia). Target TD: 140-150 / 90-100 mmHg (jangan menurunkan TD terlalu cepat untuk mencegah hipoperfusi plasenta).
- 💊Kortikosteroid Pematangan Paru Janin (jika usia kehamilan 24 - 34+6 minggu): Deksametason 6 mg IM tiap 12 jam (4 dosis) atau Betametason 12 mg IM tiap 24 jam (2 dosis).
- 🔪Terminasi Kehamilan merupakan satu-satunya terapi definitif preeklampsia.
- 🔪Usia kehamilan >= 34 minggu: Rencanakan terminasi kehamilan setelah stabilisasi maternal.
- 🔪Usia kehamilan < 34 minggu (manajemen ekspektatif terkontrol di RS tersier): Boleh dipertimbangkan hanya bila parameter maternal-janin stabil tanpa tanda perburukan klinis/laboratorium.
- 🔪Indikasi Terminasi Segera tanpa memandang usia gestasi: Eklamsia, edema paru maternal, sindrom HELLP, solusio plasenta, koagulopati DIC, gagal ginjal akut, atau gawat janin / fetal distress non-reassuring.
Pantau ketat tanda intoksikasi MgSO4: Refleks patella (+) harus selalu ada, frekuensi pernapasan >= 16x/menit, dan produksi urin >= 30 mL/jam. Siapkan Kalsium Glukonas 10% (1 gram IV dalam 10 menit) di samping tempat tidur sebagai antidotum.
Pedoman Resmi Terkait (PNPK / Society)
Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Preeklampsia
Standar baku nasional pelayanan medis preeklampsia di Indonesia: penapisan risiko antenatal trimester pertama, profilaksis aspirin 150 mg, protokol magnesium sulfat untuk pencegahan dan terapi kejang, serta ambang batas terminasi kehamilan.
Sumber ResmiLandmark Evidence Acuan (RCTs)
Aspirin versus Placebo in Pregnancies at High Risk for Preterm Preeclampsia
Preeklampsia preterm terjadi pada 1.6% kelompok aspirin dibandingkan 4.3% pada kelompok plasebo (Odds Ratio 0.38, 95% CI 0.20 - 0.74, P=0.004), mewakili PENURUNAN RISIKO SEBESAR 62% tanpa peningkatan morbiditas perdarahan atau solusio plasenta.
Do women with pre-eclampsia, and their babies, benefit from magnesium sulphate? The Magpie Trial
Wanita yang dialokasikan menerima MgSO4 mengalami penurunan risiko eklamsia sebesar 58% dibanding plasebo (RR 0.42, 95% CI 0.29 - 0.60). Mortalitas maternal juga lebih rendah secara signifikan pada kelompok magnesium sulfat (RR 0.55, 95% CI 0.26 - 1.14).
Severe Preeclampsia with Impending Eclampsia & HELLP Syndrome at 32 Weeks
Uji kemampuan penalaran diagnostik dan keputusan terapi Anda pada skenario nyata ini.