WONDERA ACADEMIC HEALTH SYSTEMEdisi Pendidikan PPDS & Spesialis
PNPK POGIFIGO 2023ACOG / RCOGPubMed Index
HomereiClinical Dossier
ICD-10: E28.2Severity: moderateDivisi: rei

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) & 2023 International Consensus

Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) & Konsensus Internasional 2023

Gangguan endokrinometabolik heterogen paling sering pada wanita usia reproduksi, ditandai hiperandrogenisme, disfungsi ovulasi, morfologi ovarium polikistik, dan resistensi insulin.

Etiologi & Patogenesis Molekuler

Disregulasi poros hipotalamus-hipofisis (hipersekresi LH persisten) memicu hiperplasia sel teka dan sintesis androgen berlebih. Diperparah oleh hiperinsulinemia akibat resistensi insulin perifer, yang menekan produksi Sex Hormone-Binding Globulin (SHBG) di hepar, melipatgandakan fraksi testosteron bebas yang aktif.

Epidemiologi: Mempengaruhi 8-13% wanita usia reproduksi secara global; merupakan penyebab anovulasi terbanyak (>80% kasus infertilitas anovulatoar).
Kriteria Diagnostik Standar Baku
  • Kriteria Rotterdam (Revisi Konsensus Internasional 2023) - Membutuhkan minimal 2 dari 3 kriteria (setelah menyingkirkan etiologi lain seperti hiperplasia adrenal kongenital non-klasik, hiperprolaktinemia, dan tumor pensekresi androgen):
  • 1. Disfungsi ovulasi: Oligomenorea (siklus > 35 hari) atau amenorea.
  • 2. Hiperandrogenisme: Klinis (hirsutisme skor Ferriman-Gallwey >= 4-6, jerawat inflamasi resisten, androgenic alopecia) ATAU Biokimia (peningkatan Indeks Androgen Bebas / FAI atau testosteron total).
  • 3. Morfologi Ovarium Polikistik (PCOM) pada USG: >= 20 folikel berdiameter 2-9 mm per ovarium ATAU volume ovarium >= 10 mL (pada salah satu ovarium).
  • Pembaruan Kunci 2023: Kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) serum serum kini dapat digunakan sebagai pengganti pemeriksaan USG untuk kriteria PCOM pada wanita dewasa.

Alur Penyelidikan & Pemeriksaan Penunjang

1. First-Line Investigations
  • USG Transvaginal (hitung folikel antral per ovarium dan volume ovarium)
  • Kadar Testosteron Total & SHBG untuk menghitung Free Androgen Index (FAI)
  • 17-Hydroxyprogesterone (17-OHP) serum puasa pagi hari (menyingkirkan NCCAH)
2. Pencitraan Lanjut (USG / MRI / CT)
  • USG kelenjar adrenal (bila timbul virilisasi cepat / klitoromegali mendadak untuk menyingkirkan adenoma/karsinoma adrenal)
3. Laboratorium & Biomarker
  • Oral Glucose Tolerance Test (OGTT 75 gram) untuk mendeteksi gangguan toleransi glukosa
  • Profil lipid serum puasa (Trigliserida, HDL, LDL)
  • Kadar TSH & Prolaktin serum

Algoritma Tata Laksana Komprehensif

Triase & Stabilisasi Awal:

Identifikasi tujuan utama pasien: Keinginan hamil segera vs regulasi siklus haid & reduksi gejala hiperandrogenisme.

Terapi Medikamentosa / Farmakologis:
  • 💊Intervensi Gaya Hidup: Penurunan berat badan 5-10% memulihkan ovulasi spontan pada >50% wanita dengan PCOS obesitas.
  • 💊Regulasi Siklus Haid (Bukan Program Hamil): Kontrasepsi oral kombinasi (KOK) dengan progestin anti-androgenik (Cyproterone acetate, Drospirenone, atau Dienogest) sebagai lini pertama untuk menekan LH dan meningkatkan SHBG.
  • 💊Induksi Ovulasi Lini Pertama (Ingin Hamil): LETROZOLE (Inhibitor Aromatase) dosis 2.5 mg/hari hari ke-3 hingga 7 siklus haid (dapat ditingkatkan hingga 5.0 - 7.5 mg). Letrozole terbukti secara signifikan mengungguli klomifen sitrat dalam angka kelahiran hidup (live birth rate) dan ovulasi (Uji Klinis PPCOS II - Legro et al., NEJM).
  • 💊Metformin: Ditambahkan bila terdapat gangguan toleransi glukosa, diabetes melitus tipe 2, atau indeks massa tubuh tinggi.
Intervensi Bedah & Prosedural:
  • 🔪Laparoscopic Ovarian Drilling (LOD): Opsi lini kedua pada pasien yang gagal atau resisten terhadap letrozole/klomifen. Dikerjakan dengan 4-6 pungsi elektrokauter monopolar (40 Watt selama 4-5 detik) per ovarium untuk mengurangi jaringan teka hiperaktif.
Pemantauan & Evaluasi Lanjut (Follow-Up):

Skrining glukosa darah dan profil lipid berkala tiap 1-2 tahun karena risiko tinggi berkembang menjadi DM tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

Pedoman Resmi Terkait (PNPK / Society)

ESHRE (2023)Current / In Force
International Evidence-based Guideline for Assessment and Management of PCOS 2023

Konsensus global multidisiplin penegakan diagnosis PCOS (Kriteria Rotterdam), peran serum Anti-Müllerian Hormone (AMH) sebagai alternatif USG, dan penempatan Letrozole sebagai agen induksi ovulasi lini pertama mutlak.

Sumber Resmi

Landmark Evidence Acuan (RCTs)

PPCOS II TrialPMID: 25006718
Letrozole, Clomiphene, or Both for Infertility in the Polycystic Ovary Syndrome

Kelompok Letrozole memiliki angka kelahiran hidup kumulatif yang secara signifikan lebih tinggi dibanding Klomifen (27.5% vs 19.1%; P=0.007) dan angka ovulasi per siklus yang lebih tinggi (61.7% vs 48.3%; P<0.001). Tidak ada perbedaan dalam kelainan kongenital atau kehamilan multipel.

New England Journal of Medicine (NEJM) (2014)Baca Full Text →
Clinical Case Simulator Terkait:

Critical Early Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS) with Severe Hemoconcentration Following IVF

Uji kemampuan penalaran diagnostik dan keputusan terapi Anda pada skenario nyata ini.

Buka Kasus Klinis →