WONDERA ACADEMIC HEALTH SYSTEMEdisi Pendidikan PPDS & Spesialis
PNPK POGIFIGO 2023ACOG / RCOGPubMed Index
HomeProceduresLaparotomy
LaparotomyKompleksitas: Expert/SubspecialtyDivisi: general obs

Resuscitative Hysterotomy / Perimortem Cesarean Delivery (PMCD)

Histerotomi Resusitasi / Seksio Sesarea Perimortem Maternal

Real-time Simulation Scenario: Perimortem Cesarean Section (PMCD)

Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) • Terverifikasi Akademik (08:45)

Embedded Direct Stream
Landmark & Bab Kritis Video:
00:45Recognition of refractory maternal cardiac arrest and 4-minute rule
02:10Rapid midline vertical abdominal incision without draping delay
03:30Vertical hysterotomy and manual finger protection
04:40Fetal delivery and immediate cord clamping
06:15Post-delivery CPR continuation and maternal ROSC assessment
Video simulasi klinis resmi terakreditasi RCOG yang memperagakan komunikasi tim krisis, penegakan keputusan dalam 4 menit, teknik histerotomi cepat, dan koordinasi dengan tim resusitasi neonatus.obgyn.wondera.id Operative Cinema
Indikasi Bedah:
  • Henti jantung maternal (maternal cardiac arrest) pada usia kehamilan >= 20 minggu (fundus uteri setinggi atau di atas umbilikus) yang belum mencapai Return of Spontaneous Circulation (ROSC) dalam 4 menit resusitasi CPR berkualitas tinggi.
  • Trauma maternal katastropik tidak dapat bertahan hidup (unsurvivable maternal trauma / cedera kepala fatal) dengan janin diduga masih viabel.
  • Tujuan ganda: prioritas utama adalah menyelamatkan nyawa IBU dengan mendekompresi vena kava inferior dan memulihkan cardiac output 60%, prioritas sekunder adalah keselamatan janin.
Kontraindikasi:
  • Kembalinya sirkulasi spontan (ROSC) tercapai sebelum insisi kulit dimulai.
  • Usia kehamilan pasti < 20 minggu (volume uterus belum cukup menekan vena kava inferior secara signifikan).
Anatomi & Landmark Wajib Dikuasai:
  • Dinding abdomen garis tengah anterior (linea alba dari prosesus xifoideus ke simfisis pubis)
  • Peritoneum parietal anterior
  • Segmen bawah rahim (SBR) dan korpus uteri anterior
  • Vena kava inferior dan aorta abdominalis retroperitoneal (titik kompresi fisiologis)
Instrumen & Perangkat Energi yang Disarankan:
  • -Skapel No. 10 atau No. 20 (atau pisau bedah steril darurat apapun)
  • -Gunting bedah Mayo atau gunting tumpul
  • -2 klem tali pusat (atau klem hemostat/Kelly) dan 1 gunting tali pusat
  • -Kassa laparatomi / handuk steril untuk tamponade kompresi uterus pascasalin
Operative Manual

Langkah demi Langkah Teknik Operasi

Setiap tahapan dilengkapi landmark anatomi kritis dan kewaspadaan komplikasi iatrogenik.

1

Insisi Laparatomi Vertikal Garis Tengah Darurat

Lakukan insisi vertikal luas pada garis tengah dinding abdomen dari pertengahan antara xifoideus dan umbilikus hingga simfisis pubis dalam satu gerakan pisau yang mantap dan tegas, menembus kutis, subkutis, dan linea alba.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Linea alba garis tengah
  • Simfisis pubis (batas inferior insisi)
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Insisi transversal Pfannenstiel dikontraindikasikan keras karena membuang waktu berharga dan membatasi lapang pandang evakuasi cepat.
2

Pembukaan Peritoneum Cepat

Insisi kecil dibuat pada peritoneum secara tajam dengan pisau atau gunting, lalu diperluas secara tumpul ke kranial dan kaudal menggunakan kedua jari telunjuk operator demi menghindari cedera usus dan vesika urinaria.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Lipatan peritoneum parietale
  • Kubah vesika urinaria di kaudal
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Cedera kandung kemih yang terdorong ke kranial oleh kepala janin.
3

Histerotomi Vertikal Korpus / SBR

Lakukan insisi vertikal sepanjang 4-5 cm pada segmen bawah rahim atau dinding anterior uterus hingga menembus kavum uteri dan selaput ketuban robek. Masukkan dua jari tangan nondominan ke dalam kavum uteri untuk melindungi janin, lalu perluas insisi histerotomi ke kranial menggunakan gunting berujung tumpul.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Dinding anterior miometrium
  • Dua jari pelindung kutis janin
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Laserasi tajam pada kulit kepala atau tubuh janin jika memperluas insisi tanpa proteksi jari.
4

Ekstraksi Cepat Janin & Klem Tali Pusat

Raih bagian terbawah janin (kepala atau bokong) dan lahirkan segera. Pasang dua klem pada tali pusat, potong di antara kedua klem, dan serahkan neonatus seketika kepada tim resusitasi bayi/NICU yang telah siap dengan radiant warmer portabel.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Tali pusat janin
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Penundaan serah terima neonatus memperpanjang anoksia serebral bayi.
5

Evakuasi Plasenta & Penilaian Pemulihan Hemodinamik Ibu

Keluarkan plasenta secara manual. Lakukan kompresi bimanual uterus atau evakuasi uterus keluar rongga abdomen (eksteriorisasi transien) untuk membebaskan penekanan vena kava inferior secara maksimal. Lanjutkan CPR maternal dan pemberian epinefrin IV; evaluasi pulsasi karotis dan monitor EKG untuk mendeteksi ROSC yang sering terjadi seketika setelah uterus dikosongkan.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Vena cava inferior dan aorta abdominalis (terbebas dari kompresi)
  • Uterus miometrium
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Atonia uteri pascapulih sirkulasi; segera berikan Oksitosin 20-40 IU per infus atau asam traneksamat 1 gram IV bila ROSC tercapai.
Protokol Asuhan Pascaoperasi (ERAS):
  • Jika ROSC tercapai: Segera transfer pasien ke kamar operasi untuk penjahitan hemostatik uterus lapis demi lapis dan eksplorasi rongga abdomen.
  • Pemberian antibiotik spektrum luas intravena terapeutik (karena tindakan dilakukan tanpa asepsis baku).
  • Targeted Temperature Management (TTM) dan perawatan pascahenti jantung di Intensive Care Unit (ICU).
  • Dukungan psikologis krisis bagi keluarga dan debriefing tim multidisiplin (Obstetri, Anestesi, Emergensi, Neonatologi).
Potensi Komplikasi yang Wajib Diwaspadai:
  • Gagal mencapai ROSC maternal (mortalitas maternal primer)
  • Cedera laserasi iatrogenik pada janin atau kandung kemih maternal
  • Perdarahan masif intraabdominal pasca-ROSC
  • Infeksi luka operasi dan sepsis pascaresusitasi
Bukti Ilmiah & Landasan Pedoman Resmi:
  • AHA Guidelines for CPR & ECC: Jika pasien hamil dengan tinggi fundus >= umbilikus tidak merespons resusitasi dalam 4 menit, seksio sesarea perimortem harus segera dilakukan untuk meningkatkan kemungkinan resusitasi ibu.
  • RCOG Good Practice Guideline No. 16: Histerotomi resusitasi tidak boleh ditunda demi menunggu konfirmasi viabilitas janin atau alat bedah lengkap; prosedur ini adalah manuver resusitasi kardiorespirasi ibu.