WONDERA ACADEMIC HEALTH SYSTEMEdisi Pendidikan PPDS & Spesialis
PNPK POGIFIGO 2023ACOG / RCOGPubMed Index
VaginalKompleksitas: AdvancedDivisi: urogynecology

Surgical Repair of Obstetric Anal Sphincter Injuries (OASIS Grade 3 & 4)

Reparasi Bedah Cedera Sfingter Ani Obstetrik (OASIS Derajat 3 & 4)

Modern Technique of Sphincter Repair After Obstetric Perineal Trauma

Colorectal Disease Journal / European Society of Coloproctology • Terverifikasi Akademik (13:40)

Embedded Direct Stream
Landmark & Bab Kritis Video:
01:20Anatomy identification of IAS and retracted EAS borders
04:10Anorectal submucosal mucosa continuous closure
07:30Internal anal sphincter (IAS) interrupted mattress approximation
09:50External anal sphincter (EAS) fascia-inclusive repair
12:15Perineal body reconstruction and post-repair DRE check
Video edukasi bedah terakreditasi jurnal internasional mendemonstrasikan visualisasi IAS vs EAS, teknik jahitan PDS interrupted end-to-end dan overlap, penutupan mukosa anorektal submukosa, dan verifikasi rectal digital exam.obgyn.wondera.id Operative Cinema
Indikasi Bedah:
  • Robekan perineum derajat 3a (<50% External Anal Sphincter / EAS robek)
  • Robekan perineum derajat 3b (>50% EAS robek)
  • Robekan perineum derajat 3c (robekan penuh EAS disertai robekan Internal Anal Sphincter / IAS)
  • Robekan perineum derajat 4 (robekan menembus epitel mukosa anorektal)
Kontraindikasi:
  • Perbaikan di ruangan kamar bersalin biasa tanpa pencahayaan adekuat, asisten, atau analgesia regional/umum (harus dibawa ke kamar operasi)
Anatomi & Landmark Wajib Dikuasai:
  • Mukosa anorektal (anal epithelium) dan submukosa
  • Internal Anal Sphincter (IAS): lapisan otot polos sirkular tebal berwarna pucat/putih mutiara
  • External Anal Sphincter (EAS): berkas otot lurik berwarna merah kecokelatan yang elastis
  • Perineal body dan otot bulbospongiosus serta transversus perinei superfisialis
  • Mukosa vagina dan fasia rektovaginalis
Instrumen & Perangkat Energi yang Disarankan:
  • -Retraktor vagina Gelpi atau retraktor Sims sempit
  • -Klem Allis atraumatik halus (4 buah) untuk menjepit ujung-ujung sfingter yang retraksi
  • -Benang Monofilamen sintetis berpenyerapan lambat: PDS (polydioxanone) 3-0 untuk IAS dan EAS
  • -Benang Polyglactin 910 (Vicryl) 3-0 / 2-0 untuk mukosa anorektal dan vagina
Operative Manual

Langkah demi Langkah Teknik Operasi

Setiap tahapan dilengkapi landmark anatomi kritis dan kewaspadaan komplikasi iatrogenik.

1

Inspeksi Kamar Operasi & Penentuan Klasifikasi Sultan

Pencucian luka perineum. Evaluasi anatomis dengan colok dubur bimanual. Identifikasi robekan mukosa anorektal, IAS pucat mutiara, dan EAS merah gelap yang retraksi ke lateral fosa ischioanal.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Pucatnya otot IAS
  • Kapsul fasia pembungkus EAS
  • Mukosa anorektal
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Gagal mengenali robekan IAS pada robekan derajat 3c mengakibatkan inkontinensia gas dan feses cair persisten pascaoperasi.
2

Reparasi Epitel Mukosa Anorektal (Derajat 4)

Mukosa anorektal dijahit menggunakan benang Vicryl 3-0 atau 4-0 dengan jahitan interrupted submukosa (inverting knots ke dalam lumen) atau interrupted tanpa menembus lumen anorektal, dimulai dari apeks proksimal menuju anal verge.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Apeks robekan mukosa rektum
  • Batas anal verge
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Menjahit menembus epitel mukosa rektum dengan benang non-absorbable dapat menjadi nidus pembentukan fistula rektovaginalis.
3

Identifikasi & Penjahitan Internal Anal Sphincter (IAS)

Kedua ujung IAS yang terpisah ditarik dengan klem Allis halus. Dilakukan aproksimasi end-to-end terpisah menggunakan jahitan matras horizontal dengan benang monofilamen PDS 3-0.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Batas serat sirkular putih IAS
  • Jarak aman dari mukosa rektum
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Mengabaikan penjahitan terpisah IAS; IAS bertanggung jawab atas 70-80% tekanan istirahat sfingter ani kontinen.
4

Reparasi External Anal Sphincter (EAS): Overlap vs End-to-End

Kedua ujung otot EAS diidentifikasi dan difiksasi dengan klem Allis. Pada robekan parsial (3a/3b), lakukan teknik end-to-end dengan jahitan matras interrupted PDS 3-0 menyertakan fasia kapsul EAS. Pada robekan komplit (3c/4), teknik overlapping (tumpang tindih 1-1.5 cm) atau end-to-end dapat dipilih dengan hasil ekuivalen.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Kapsul fasia anterior dan posterior EAS
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Hanya menjahit serat otot tanpa mengikutsertakan fasia kapsul sfingter menyebabkan benang rapuh terlepas (suture pull-through).
5

Rekonstruksi Korpus Perineum & Mukosa Vagina

Otot-otot korpus perineum (bulbospongiosus dan transversus perinei) disatukan dengan jahitan interrupted Vicryl 2-0 untuk mengembalikan ketebalan perineal body. Fasia dan mukosa vagina dijahit jelujur hingga introitus.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Perineal body apex
  • Hymenal ring alignment
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Perbaikan perineal body terlalu tinggi menyebabkan stenosis introitus dan dispareunia intromisi.
6

Evaluasi Akhir Colok Dubur (Digital Rectal Examination)

Pemeriksaan colok dubur wajib dilakukan untuk memastikan integritas tonus sfingter ani, menilai simetri cincin sfingter, dan mengonfirmasi tidak ada benang yang menembus lumen rektum.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Tonus sfingter ani saat istirahat dan kontraksi
  • Lumen rektum mulus
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Jika teraba ada benang menembus mukosa rektum, benang tersebut harus segera dipotong dan dijahit ulang.
Protokol Asuhan Pascaoperasi (ERAS):
  • Pemberian laksatif harian (Lactulose 15 mL 2 kali sehari) selama 10-14 hari untuk menghasilkan feses lunak bebas mengejan
  • Antibiotik oral spektrum luas (Sefiksim + Metronidazol) dilanjutkan selama 5-7 hari pascabedah
  • Kateter Foley dipertahankan selama 12-24 jam hingga edema jaringan perineum mereda
  • Kunjungan kontrol pascabedah dalam 6-12 minggu untuk menilai kontinensia anal menggunakan kuesioner St. Marks / Jorge-Wexner score
Potensi Komplikasi yang Wajib Diwaspadai:
  • Inkontinensia anal (flatus atau feses) jangka panjang (15-30%)
  • Dehisensi luka perineum dan infeksi luka pascabedah (5-10%)
  • Fistula rektovaginalis (0.5 - 2%)
  • Dispareunia kronis dan nyeri perineum persisten
Bukti Ilmiah & Landasan Pedoman Resmi:
  • RCOG Green-top Guideline No. 29: The Management of Third- and Fourth-Degree Perineal Tears: Reparasi harus dilakukan di kamar bedah dengan pencahayaan dan anestesi adekuat. Antibiotik profilaksis terbukti secara signifikan menurunkan risiko infeksi luka perineum.
  • Cochrane Review (Fernando et al., 2013): Teknik penjahitan EAS overlapping vs end-to-end menunjukkan hasil kontinensia anal serupa pada 12 bulan pascabedah.