WONDERA ACADEMIC HEALTH SYSTEMEdisi Pendidikan PPDS & Spesialis
PNPK POGIFIGO 2023ACOG / RCOGPubMed Index
HomeProceduresHysteroscopy
HysteroscopyKompleksitas: StandardDivisi: general gyn

Diagnostic and Operative Hysteroscopy: Myomectomy & Polypectomy

Histeroskopi Diagnostik dan Operatif: Reseksi Polip & Mioma Submukosa

Advanced Hysteroscopy Surgery: Submucous Myomectomy & Polypectomy

World Laparoscopy Hospital / Dr. R.K. Mishra • Terverifikasi Akademik (14:45)

Embedded Direct Stream
Landmark & Bab Kritis Video:
01:15Vaginoscopic introduction and internal os entry
03:40Panoramic uterine cavity survey & bilateral tubal ostia identification
06:20Endometrial polyp identification and mechanical/resectoscopic resection
09:45Submucous myoma layered bipolar slicing (shaving method)
12:30Final cavity inspection & hemostasis confirmation
Video edukasi bedah histeroskopi resolusi tinggi menampilkan navigasi kanalis servikalis, visualisasi ostium tuba bilateral, teknik shaving loop bipolar bertahap, dan hemostasis kavum uteri.obgyn.wondera.id Operative Cinema
Indikasi Bedah:
  • Perdarahan uterus abnormal (AUB) akibat polip endometrium (AUB-P) atau mioma submukosa (AUB-M Tipe 0, 1, 2)
  • Evaluasi kavum uteri pada infertilitas dan kegagalan implantasi berulang (recurrent implantation failure / RIF)
  • Sinekia intrauterin (Sindrom Asherman)
  • Septum uteri kongenital (Müllerian anomaly klasifikasi ESHRE/ASRM)
Kontraindikasi:
  • Kehamilan intrauterin aktif
  • Infeksi panggul aktif (PID / endometritis akut)
  • Kanker serviks invasif atau kanker endometrium lanjut
  • Perforasi uterus yang baru terjadi
Anatomi & Landmark Wajib Dikuasai:
  • Kanalis endoservikalis dan orifisium uteri internum (OUI)
  • Kavum uteri dan fundus uteri
  • Ostium tuba uterina bilateral (ostium tubae uterinae dextra & sinistra)
  • Zona transisi endometrium-miometrium
Instrumen & Perangkat Energi yang Disarankan:
  • -Histeroskop diagnostik 2.9 mm / 4 mm dengan selubung kontinu (continuous-flow sheath)
  • -Resektoskop bipolar 26 Fr dengan loop kawat dan bola koagulasi (rollerball)
  • -Media distensi salin normal 0.9% (bipolar) atau glisin 1.5% / sorbitol (monopolar)
  • -Sistem pompa distensi histeroskopi otomatik (misal Hysteromat) menjaga tekanan intrauterin 70-100 mmHg
Operative Manual

Langkah demi Langkah Teknik Operasi

Setiap tahapan dilengkapi landmark anatomi kritis dan kewaspadaan komplikasi iatrogenik.

1

Teknik Masuk Vaginoscopic (No-Touch Technique)

Histeroskop dimasukkan langsung ke introitus vagina tanpa spekulum atau tenakulum. Distensi cairan meregangkan dinding vagina, forniks, dan memaparkan orifisium uteri eksternum.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Orifisium uteri eksternum
  • Lipatan kolumna rugarum vagina
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Menyentuh dinding lateral serviks secara kasar memicu nyeri dan vasovagal syncope pada pasien sadar.
2

Navigasi Kanalis Endoservikalis Menuju Kavum Uteri

Histeroskop diarahkan melintasi kanalis servikalis dengan visualisasi langsung orifisium uteri internum (OUI). Tekanan cairan dipertahankan tepat di atas Mean Arterial Pressure (80-90 mmHg) untuk membuka kavum tanpa intravasasi.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Orifisium uteri internum
  • Kelenjar endoserviks
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Membuat false route (jalan sesat) di stroma serviks anterior jika mendorong saat lapang pandang buram.
3

Inspeksi Panoramik 360 Derajat & Identifikasi Ostium Tuba

Lakukan survei terstruktur: fundus uteri, dinding anterior, dinding posterior, dinding lateral kiri dan kanan, serta kedua ostium tuba uterina bilateral. Evaluasi ketebalan endometrium dan karakteristik vaskularisasi.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Ostium tuba uterina kanan dan kiri
  • Fundus uteri
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Ketidakmampuan melihat ostium tuba dapat disebabkan sinekia intrauterin, polip besar menutupi kornea, atau perforasi rahim.
4

Reseksi Loop Bipolar Polip atau Mioma Submukosa (Step-by-Step Shaving)

Loop elektrokauter bipolar diaktifkan hanya pada gerakan menarik mundur (pull stroke toward the operator). Jaringan mioma atau polip dipotong tipis lapis demi lapis (shaving technique) dari puncak tumor menuju basis perlekatannya di miometrium.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Basis pseudokapsul mioma
  • Batas lapisan miometrium normal
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Memotong miometrium terlalu dalam di area fundus atau kornu dapat menembus serosa (perforasi uterus), melukai vasa uterina atau usus.
5

Pemantauan Neraca Defisit Cairan Ketat (Fluid Deficit Monitoring)

Asisten sirkuler menghitung defisit cairan (selisih cairan infus masuk dikurangi cairan tampung keluar) setiap 10 menit. Prosedur wajib dihentikan bila defisit cairan salin normal mencapai 2.500 mL (atau 1.000 mL untuk glisin hypotonic) untuk mencegah edema paru dan fluid overload.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Skala penampung defisit cairan (automated fluid monitoring unit)
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Fluid overload sindrom TURP (hiponatremia ensefalopati dan kejang) jika menggunakan media nonelektrolit, atau edema paru kardiogenik dengan salin normal.
Protokol Asuhan Pascaoperasi (ERAS):
  • Pemantauan tanda vital dan perdarahan bercak selama 2-4 jam pascatindakan
  • Pasien dapat dipulangkan pada hari yang sama (day-care surgery)
  • Analgesia oral dengan asam mefenamat atau ibuprofen
  • Instruksikan pasien pantang hubungan seksual dan penggunaan tampon selama 7-10 hari
Potensi Komplikasi yang Wajib Diwaspadai:
  • Perforasi uterus intraoperatif (0.5 - 1.5%)
  • Sindrom kelebihan beban cairan (fluid overload) dan hiponatremia
  • Perdarahan pascabedah dari arteri arkuata miometrium
  • Infeksi pasca-histeroskopi (endometritis)
Bukti Ilmiah & Landasan Pedoman Resmi:
  • AAGL Practice Report: Practice Guidelines for the Management of Hysteroscopic Distention Media: Defisit batas aman maksimal untuk media isotonik (Normal Saline) pada wanita sehat adalah 2.500 mL; pada komorbid kardiopulmonal dibatasi 1.500 mL.
  • RCOG Green-top Guideline No. 59: Best Practice in Outpatient Hysteroscopy: Pendekatan vaginoscopic no-touch terbukti mengurangi nyeri secara signifikan dan meningkatkan toleransi pasien.