WONDERA ACADEMIC HEALTH SYSTEMEdisi Pendidikan PPDS & Spesialis
PNPK POGIFIGO 2023ACOG / RCOGPubMed Index
HomeProceduresLaparotomy
LaparotomyKompleksitas: StandardDivisi: maternal fetal

Caesarean Delivery: Surgical Anatomy, Techniques & Uterine Compression

Seksio Sesarea: Anatomi Bedah, Teknik & Jahitan Kompresi Uterus

Cesarean Delivery Basics: Surgical Steps (From Skin Incision to Hysterotomy)

The OBGYN Resident Survival Guide • Terverifikasi Akademik (11:45)

Embedded Direct Stream
Landmark & Bab Kritis Video:
01:05Pfannenstiel skin incision & fascia division
03:15Bladder flap creation on lower uterine segment
05:20Hysterotomy incision & blunt expansion
07:30Delivery of the fetal head & delayed cord clamping
09:40Uterine hysterotomy repair & angle control
Video edukasi terverifikasi untuk PPDS ObGyn menampilkan teknik Pfannenstiel, diseksi bladder flap, insisi histerotomi transversal SBR tumpul, ekstraksi kepala janin, dan penjahitan dua lapis.obgyn.wondera.id Operative Cinema
Indikasi Bedah:
  • Gawat janin akut (non-reassuring fetal status)
  • Distosia persalinan / partus macet (arrest of dilation / arrest of descent)
  • Malpresentasi janin (letak lintang, presentasi dahi, bokong kaki)
  • Plasenta previa totalis atau plasenta akreta spektrum
  • Riwayat seksio sesarea sebelumnya dengan kontraindikasi persalinan pervaginam (TOLAC)
Kontraindikasi:
  • Kematian janin intrauterin (kecuali bila terjadi komplikasi maternal mengancam jiwa seperti plasenta previa atau rupture uteri)
Anatomi & Landmark Wajib Dikuasai:
  • Dinding abdomen anterior (kutis, subkutis, fasia rekti abdominis)
  • Spatium retropubicum (Cave of Retzius)
  • Plika vesikouterina dan segmen bawah rahim (SBR)
  • Sudut lateral histerotomi dan relasi terhadap vasa uterina lateral
Instrumen & Perangkat Energi yang Disarankan:
  • -Pisau bedah scalpel no. 10 dan 20
  • -Retraktor Doyen atau bilah kandung kemih Fritsch
  • -Klem Kocher lurus dan lengkung
  • -Benang polyglactin 910 (Vicryl) no. 1 dengan jarum bulat lengkung besar (CT-1) untuk histerotomi
Operative Manual

Langkah demi Langkah Teknik Operasi

Setiap tahapan dilengkapi landmark anatomi kritis dan kewaspadaan komplikasi iatrogenik.

1

Insisi Abdomen (Pfannenstiel vs Joel-Cohen)

Insisi kulit transversal Pfannenstiel dibuat 2-3 cm di atas simfisis pubis sepanjang 12-14 cm. Fasia rekti dibuka di garis tengah dan diseksi tajam/tumpul dari otot rektus.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Garis tengah linea alba
  • Vasa epigastrika superfisialis
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Perdarahan dari vasa epigastrika superfisialis jika diseksi lateral terlalu luas.
2

Pembukaan Peritoneum dan Pembuatan Bladder Flap

Peritoneum parietale dibuka secara tumpul dengan jari. Plika vesikouterina diidentifikasi dan digunting transversal. Kandung kemih didorong ke kaudal secara lembut menggunakan kassa gulung untuk memaparkan SBR avaskular.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Plika vesikouterina
  • Segmen bawah rahim (SBR)
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Pada pasien dengan riwayat SC berulang, kandung kemih sering tertarik tinggi menempel pada parut SBR; diseksi tajam hati-hati wajib dilakukan untuk mencegah sistotomi.
3

Histerotomi Transversal Segmen Bawah Rahim

Insisi transversal 2-3 cm dibuat di garis tengah SBR menembus miometrium hingga kantung ketuban. Insisi diperluas ke lateral kiri dan kanan secara tumpul menggunakan dua jari tangan operator untuk mencegah cedera vasa uterina.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Sudut lateral SBR
  • Vasa uterina lateral
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Perluasan insisi histerotomi menggunakan gunting ke arah lateral meningkatkan risiko laserasi vasa uterina lateral hingga 3 kali lipat dibandingkan perluasan tumpul tumpul lateral.
4

Kelahiran Janin & Manajemen Kala Tiga Aktif

Tangan operator diselipkan di bawah kepala janin untuk membimbing defleksi kepala melintasi histerotomi sembari asisten memberikan tekanan fundus moderat. Pasca-kelahiran tali pusat dijepit (delayed cord clamping 30-60 detik jika bugar). Oksitosin 10-20 IU IV drip segera dimulai.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Presentasi kepala janin
  • Insersi tali pusat
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Traksi tali pusat terlalu kuat saat plasenta belum lepas dapat menyebabkan inversio uteri akut.
5

Reparasi Histerotomi (Uterine Closure) & Kompresi B-Lynch (bila Atonia)

Uterus dapat dieksteriorisasi untuk inspeksi hemostasis optimal. Histerotomi ditutup dengan jahitan jelujur terkunci atau tidak terkunci menggunakan Vicryl No. 1 satu lapis (single-layer) atau dua lapis (double-layer). Bila terjadi atonia uteri refrakter, pasang jahitan kompresi B-Lynch.

Landmark Anatomi Kritis:
  • Kedua sudut lateral histerotomi (angle sutures)
  • Endometrium junction
Jebakan & Potensi Bahaya:
  • Gagal mengidentifikasi laserasi sudut lateral yang meluas ke ligamentum kardinal dapat memicu hematoma retroperitoneal masif tersembunyi.
Protokol Asuhan Pascaoperasi (ERAS):
  • Pemantauan tanda vital dan kontraksi uterus serta perdarahan lokia tiap 15 menit pada 2 jam pertama
  • Pemberian infus oksitosin diteruskan 4-6 jam pascabedah
  • Pelepasan kateter urin dalam 12 jam dan mobilisasi dini
Potensi Komplikasi yang Wajib Diwaspadai:
  • Perdarahan pascasalin sekunder akibat atonia uteri atau laserasi vasa uterina
  • Infeksi luka operasi (SSI) dan endometritis
  • Cedera iatrogenik kandung kemih (cystotomy)
  • Tromboemboli vena (DVT / PE)
Bukti Ilmiah & Landasan Pedoman Resmi:
  • CORONIS Trial (Lancet 2013): Uji klinis multisenter acak 15.000 wanita membandingkan teknik bedah SC (eksteriorisasi uterus vs in situ, single vs double layer closure, penutupan peritoneum vs tanpa penutupan) tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada morbiditas infeksi mayor.
  • ACOG Practice Bulletin No. 209: Profilaksis antibiotik pra-insisi terbukti menurunkan infeksi luka dan endometritis hingga 50-70%.