WONDERA ACADEMIC HEALTH SYSTEMEdisi Pendidikan PPDS & Spesialis
PNPK POGIFIGO 2023ACOG / RCOGPubMed Index
HomeurogynecologyClinical Dossier
ICD-10: O70.2Severity: highDivisi: urogynecology

Obstetric Anal Sphincter Injuries (OASIS 3rd & 4th Degree Tears)

Cedera Sfingter Anal Obstetrik (OASIS / Robekan Perineum Derajat 3 & 4)

Robekan obstetrik kompleks pada korpus perineal yang melibatkan kompleks sfingter ani eksterna (EAS) dan interna (IAS) serta mukosa anorektal, diklasifikasikan menurut konsensus Sultan/RCOG.

Etiologi & Patogenesis Molekuler

Regangan mekanis ekstrem melebihi ambang elastisitas jaringan perineal saat penurunan dan ekspulsi kepala janin memicu disrupsi muskulus bulbospongiosus, transversus perinei, serta berkas serabut muskulus sfingter ani eksterna (otot lurik volunter kontinensia feses) dan muskulus sfingter ani interna (otot polos involunter yang menyumbang 70-80% resting anal tone).

Epidemiologi: Terjadi pada 3-6% persalinan pervaginam primipara; faktor risiko kuat meliputi persalinan dengan instrumen vakum/forceps, primiparitas, distosia bahu, berat lahir bayi > 4000 gram, posisi oksiput posterior persisten, dan episiotomi mediana.
Kriteria Diagnostik Standar Baku
  • Pemeriksaan rektovaginal bimanual (Digital Rectal Examination / DRE) sistematis wajib dilakukan pada SEMUA wanita pascapersalinan pervaginam sebelum penjahitan perineum.
  • Klasifikasi Sultan / RCOG / POGI:
  • - Derajat 1: Robekan terbatas pada epitel vagina dan kulit perineum.
  • - Derajat 2: Robekan melibatkan otot-otot perineal (bulbospongiosus, transversus perinei) tanpa melibatkan sfingter ani.
  • - Derajat 3: Robekan melibatkan kompleks sfingter ani:
  • * Derajat 3a: Robekan melibatkan < 50% ketebalan Muskulus Sfingter Ani Eksterna (EAS).
  • * Derajat 3b: Robekan melibatkan > 50% ketebalan Muskulus Sfingter Ani Eksterna (EAS).
  • * Derajat 3c: Robekan melibatkan seluruh ketebalan EAS DAN Muskulus Sfingter Ani Interna (IAS).
  • - Derajat 4: Robekan melibatkan EAS, IAS, DAN epitel mukosa anorektal (lumen rektum terbuka terpapar).

Alur Penyelidikan & Pemeriksaan Penunjang

1. First-Line Investigations
  • Pemeriksaan colok dubur (DRE) pascapersalinan dengan visualisasi pencahayaan optimal di kamar operasi
  • Penilaian tonus resting anal sphincter dan defek "pillowing" mukosa
2. Pencitraan Lanjut (USG / MRI / CT)
  • Endoanal Ultrasound (EAUS) 360 derajat pascabedah (baku emas mendeteksi persistent sphincter defect pada wanita dengan inkontinensia anal pascasalin)
3. Laboratorium & Biomarker
  • Darah lengkap

Algoritma Tata Laksana Komprehensif

Triase & Stabilisasi Awal:

Perbaikan bedah OASIS idealnya dilakukan di KAMAR OPERASI dengan pembiusan adekuat (regional spinal atau epidural), pencahayaan lampu operasi yang terang, retraktor khusus, dan oleh operator terlatih (dokter spesialis ObGyn).

Terapi Medikamentosa / Farmakologis:
  • 💊Antibiotik Profilaksis Spektrum Luas Intravena: Dosis tunggal Sefotaksim/Sefazolin IV + Metronidazol 500 mg IV pra-tindakan untuk mencegah infeksi luka perineal dan dehisensi jahitan sfingter (rekomendasi Grade A).
  • 💊Laksansia Pelunak Feses (Stool Softener): Laktulosa oral 15 mL 2 kali sehari selama 10-14 hari pascaoperasi untuk mencegah impaksi feses keras yang meregangkan jahitan sfingter.
  • 💊KONTRAINDIKASI PASCABEDAH: Dilarang keras melakukan pemeriksaan colok dubur, pemberian supositoria per rektal, atau klisma enema selama fase penyembuhan (minimal 6 minggu).
Intervensi Bedah & Prosedural:
  • 🔪Urutan Langkah Rekonstruksi Anatomis Bertingkat:
  • 🔪1. Penjahitan Mukosa Anorektal (pada Derajat 4): Jahitan kontinu atau interuptus menggunakan benang vicryl 4-0 / 3-0 dengan simpul terkubur di submukosa (tidak menembus lumen rektum) untuk mencegah fistula rektovaginal.
  • 🔪2. Rekonstruksi Muskulus Sfingter Ani Interna (IAS): Identifikasi lapisan otot polos keputihan di antara mukosa rektum dan EAS. Aproksimasi IAS secara anatomis menggunakan jahitan interuptus matras horizontal benang monofilamen lambat serap (PDS 3-0). Penyatuan IAS sangat krusial untuk mencegah inkontinensia gas (flatus) pascasalin.
  • 🔪3. Rekonstruksi Muskulus Sfingter Ani Eksterna (EAS):
  • 🔪 - Teknik End-to-End: Untuk robekan parsial 3a dan 3b. Kedua ujung puntung EAS dijepit dengan klem Allis dan disatukan dengan 3-4 jahitan interuptus matras U-stitch atau figure-of-8 terbalik menggunakan benang PDS 3-0 atau Vicryl 2-0.
  • 🔪 - Teknik Overlapping (Tumpang Tindih): Opsi unggulan pada robekan komplit derajat 3c dan 4. Ujung bebas otot sfingter ditarik saling tumpang tindih sepanjang 1-1.5 cm dan difiksasi dengan jahitan matras.
  • 🔪4. Rekonstruksi Korpus Perineal dan Dinding Vagina: Penjahitan otot perineal dalam dan penutupan mukosa vagina secara kontinu reguler.
Pemantauan & Evaluasi Lanjut (Follow-Up):

Kunjungan kontrol 6-12 minggu pascaoperasi. Konseling persalinan berikutnya: Seksio sesarea elektif diindikasikan pada kehamilan berikutnya HANYA jika pasien masih mengalami inkontinensia anal persisten atau terbukti terdapat defek sfingter bermakna pada USG endoanal.