WONDERA ACADEMIC HEALTH SYSTEMEdisi Pendidikan PPDS & Spesialis
PNPK POGIFIGO 2023ACOG / RCOGPubMed Index
Homegeneral obsClinical Dossier
ICD-10: O68Severity: criticalDivisi: general obs

Intrapartum Fetal Compromise & Abnormal Cardiotocography

Gawat Janin Intralaborum & Pola Kardiotokografi Patologis

Kondisi hipoksia dan asidemia akut janin intralaborum yang ditandai oleh pola kardiotokografi patologis (deselerasi lambat berulang, hilangnya variabilitas, atau bradikardia menetap) akibat insufisiensi perfusi uteroplasenta.

Etiologi & Patogenesis Molekuler

Disfungsi pertukaran gas uteroplasenta selama kontraksi persalinan memicu hipoksemia, dekompensasi sirkulasi janin, pergeseran ke metabolisme anaerobik, akumulasi asam laktat, dan asidemia metabolik berat (pH darah tali pusat < 7.00, BE < -12 mmol/L) yang merusak sel saraf korteks serebri dan miokardium.

Epidemiologi: Asfiksia neonatus intrapartum berkontribusi terhadap ~20% kematian neonatal dini di Indonesia. Gawat janin yang terlambat ditangani merupakan penyebab nomor satu rujukan darurat dari PONED ke PONEK.
Kriteria Diagnostik Standar Baku
  • Rekaman Kardiotokografi Kategori III patologis FIGO 2015.
  • Mekonium kental (thick meconium stained liquor) disertai abnormalitas DJJ (faktor risiko asidemia 3x lipat).
  • Uji Darah Kepala Janin (Fetal Scalp Blood Sampling / FBS): Kadar laktat > 4.8 mmol/L atau pH < 7.20 (indikasi terminasi segera).
  • Uji Stimulasi Kulit Kepala Digital (Digital Fetal Scalp Stimulation): Ketiadaan respons akselerasi pada perabaan bimanual.
Sistem Penentuan Stadium Resmi:

Klasifikasi Kardiotokografi Konsensus FIGO (2015)

StadiumDefinisi Klinis / Patologis / MolekulerImplikasi Manajemen
Kategori I (Normal)Baseline 110-160 dpm, variabilitas 6-25 dpm, tidak ada deselerasi lambat atau variabel berulang, akselerasi hadir atau absen.Status oksigenasi janin baik. Risiko asidosis metabolik sangat rendah (<1%). Lanjutkan pemantauan intralaborum standar.
Kategori II (Suspicious)Kehilangan satu atau lebih fitur normal (misal takikardia 160-180 dpm, variabilitas menurun 5-10 dpm > 40 menit, atau deselerasi variabel tipikal) tanpa gambaran patologis nyata.Evaluasi penyebab reversibel (dehidrasi, demam, posisi terlentang, takisistol oksitosin). Mulai resusitasi intrauterin konservatif dan observasi berkala.
Kategori III (Pathological)Baseline < 100 dpm, variabilitas minimal (<5 dpm) menetap > 50 menit, deselerasi lambat berulang pada > 50% kontraksi, atau Pola Sinusoidal sejati.Risiko asidemia metabolik dan HIE sangat tinggi. Resusitasi intrauterin maksimal segera; bila tidak membaik dalam 15-20 menit, persalinan darurat < 30 menit.

Alur Penyelidikan & Pemeriksaan Penunjang

1. First-Line Investigations
  • Kardiotokografi (CTG) kontinu
  • Pemeriksaan Dalam (VT) mengevaluasi prolaps tali pusat atau kemajuan persalinan
  • Cek tanda vital maternal (tekanan darah, suhu, SpO2)
2. Pencitraan Lanjut (USG / MRI / CT)
  • USG Doppler intrapartum bedside konfirmasi letak tali pusat dan presentasi
3. Laboratorium & Biomarker
  • Analisis Gas Darah (AGD) darah tali pusat ganda (arteri dan vena umbilikalis) segera pascakelahiran untuk dokumentasi medikolegal

Algoritma Tata Laksana Komprehensif

Triase & Stabilisasi Awal:

Identifikasi Pola Patologis Kategori III -> Aktifkan Tim Kegawatdaruratan Obstetri (Kode Biru Kebidanan) Segera.

Terapi Medikamentosa / Farmakologis:
  • 💊Resusitasi Intrauterin 5-Langkah Segera:
  • 💊1. Posisi Ibu: Segera reposisi ke miring kiri penuh (left lateral tilt) untuk membebaskan kompresi vena kava inferior.
  • 💊2. Hidrasi IV: Bolus cepat cairan kristaloid (Ringer Laktat) 500-1000 mL dalam 20 menit.
  • 💊3. Hentikan Uterotonika: Stop infus oksitosin seketika dan cabut misoprostol/prostaglandin bila ada.
  • 💊4. Tokolisis Akut: Bila terdapat takisistol uterus (> 5 kontraksi/10 min) atau hipertonus, berikan Salbutamol 100 mcg IV pelan atau Terbutaline 0.25 mg SC.
  • 💊5. Oksigenasi Selektif: Berikan Oksigen masker 10 L/menit HANYA bila saturasi oksigen ibu < 95%.
Intervensi Bedah & Prosedural:
  • 🔪Seksio Sesarea Darurat Kategori 1 (Crash C-Section): Dilakukan bila resusitasi intrauterin gagal memperbaiki variabilitas dalam 15-20 menit, atau pada bradikardia menetap < 100 dpm, dengan target Decision-to-Delivery Interval (DDI) < 30 menit.
  • 🔪Persalinan Instrumental Pervaginam (Ekstraksi Vakum / Forseps): Hanya dapat dilakukan bila pembukaan serviks telah lengkap (10 cm), ketuban sudah pecah, kepala janin telah berada di station >= +2 (Hodge IV), dan operator berpengalaman.
Pemantauan & Evaluasi Lanjut (Follow-Up):

Surveilans ketat neonatus di NICU, protokol pendinginan terapeutik (therapeutic hypothermia) dalam 6 jam pertama bila terdiagnosis ensefalopati hipoksik iskemik sedang-berat.

Pedoman Resmi Terkait (PNPK / Society)

FIGO (2015)Current / In Force
FIGO Consensus Guidelines on Intrapartum Fetal Monitoring: Cardiotocography

Klasifikasi internasional terstandar rekaman CTG intralaborum menjadi tiga kategori fungsional (Normal, Suspicious, Pathological) dengan kriteria objektif baseline (110-160 dpm), variabilitas (6-25 dpm), akselerasi, deselerasi (dini, lambat, variabel, berkepanjangan), pola sinusoidal, dan algoritma resusitasi intrauterin.

Sumber Resmi

Landmark Evidence Acuan (RCTs)

INFANT TrialPMID: 28285812
Computerised Interpretation of Fetal Heart Rate during Labour (INFANT): A Randomised Controlled Trial

Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam luaran buruk neonatus antara kelompok CTG berbantuan komputer (0.7%) versus CTG konvensional (0.7%) (adjusted Risk Ratio 1.01, 95% CI 0.82 - 1.25). Tidak ada perbedaan dalam angka seksio sesarea darurat maupun intervensi instrumental pervaginam.

The Lancet (2017)Baca Full Text →