Acute Pelvic Inflammatory Disease & Tubo-Ovarian Abscess
Penyakit Radang Panggul Akut & Abses Tubo-Ovarium (TOA)
Sindrom klinis inflamasi akut traktus genitalia interna wanita akibat infeksi asendens polimikrobial dari serviks dan vagina ke endometrium, tuba falopii, dan rongga panggul.
Penyebaran infeksi asendens polimikrobial dari traktus genitalia bawah (serviks dan vagina) melewati orifisium uteri internum ke endometrium, tuba falopii, ovarium, dan peritoneum panggul. Infeksi mikroorganisme primer (Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae, Mycoplasma genitalium) merusak epitel silindris bersilia tuba, memicu invasi bakteri anaerob sekunder dan pembentukan pus multikaviter yang membentuk massa Abses Tubo-Ovarium (TOA).
- ✓Kriteria Minimum Klinis CDC 2021 (Salah satu dari temuan bimanual berikut cukup untuk memulai terapi empiris):
- ✓- Nyeri tekan goyang porsio serviks (cervical motion tenderness)
- ✓- Nyeri tekan korpus uteri (uterine tenderness)
- ✓- Nyeri tekan adneksa bilateral atau unilateral (adnexal tenderness)
- ✓Kriteria Tambahan Pendukung Diagnosis Definitif:
- ✓- Suhu oral > 38.3 C
- ✓- Duh lendir serviks purulen mukopurulen abnormal atau friabilitas serviks
- ✓- Ditemukan banyak leukosit pada sediaan basah duh vagina (wet mount)
- ✓- Peningkatan Laju Endap Darah (LED) atau C-Reactive Protein (CRP)
- ✓- Bukti laboratorium infeksi serviks oleh N. gonorrhoeae atau C. trachomatis via NAAT
Tahapan Keparahan Klinis PID (Gainesville Classification) (2021)
| Stadium | Definisi Klinis / Patologis / Molekuler | Implikasi Manajemen |
|---|---|---|
| Derajat I (Ringan) | Endometritis / salpingitis akut tanpa peritonitis pelvik terbatas, tanpa massa adneksa, hemodinamik stabil. | Dapat ditatalaksana secara rawat jalan dengan rejimen antibiotik oral + injeksi intramuskular tunggal. |
| Derajat II (Sedang) | Salpingitis akut disertai peritonitis panggul (defans muskular panggul bawah, rebound tenderness). | Memerlukan perawatan rawat inap dan antibiotik parenteral hingga afebris. |
| Derajat III (Berat / Abses Tubo-Ovarium Utuh) | Terbentuknya massa abses tubo-ovarium (TOA) teraba pada adneksa atau terkonfirmasi USG, demam tinggi, leukositosis nyata. | Rawat inap intensif, antibiotik intravena kombinasi, evaluasi drainase perkutan atau laparoskopi bila tidak membaik dalam 48-72 jam. |
| Derajat IV (Ruptur TOA / Sepsis Pelvis) | Ruptur abses tubo-ovarium ke kavum peritoneum bebas menghasilkan peritonitis generalisata, syok septik, dan instabilitas hemodinamik. | Kegawatdaruratan bedah ginekologi mutlak: laparotomi eksplorasi darurat, pencucian peritoneal masif, dan salpingo-ooforektomi. |
Alur Penyelidikan & Pemeriksaan Penunjang
- •Pemeriksaan swab serviks dan vagina untuk tes NAAT C. trachomatis & N. gonorrhoeae
- •Pemeriksaan sediaan basah duh vagina (leukositosis)
- •USG Transvaginal panggul (mengevaluasi penebalan dinding tuba > 5 mm, gambaran cogwheel sign, cairan bebas di cul-de-sac, atau massa kistik multiloculated TOA)
- •CT Scan Abdomen-Pelvis dengan kontras jika ada keraguan diagnosis banding apendisitis akut
- •Darah lengkap (leukositosis dengan shift to the left)
- •Kadar serum C-Reactive Protein (CRP) dan Prokalsitonin
- •Tes beta-hCG urin (wajib menyingkirkan kehamilan ektopik bersamaan!)
Algoritma Tata Laksana Komprehensif
Penentuan Triase: Derajat Ringan-Sedang (Rawat Jalan) vs Derajat Berat / TOA (Rawat Inap Segera).
- 💊Rejimen Rawat Jalan Lini Pertama (CDC 2021):
- 💊- Ceftriaxone 500 mg intramuskular dosis tunggal (1000 mg jika BB >= 150 kg)
- 💊- DITAMBAH Doxycycline 100 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari
- 💊- DITAMBAH Metronidazole 500 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari (untuk cakupan anaerob dan BV penyerta).
- 💊Rejimen Rawat Inap Parenteral Lini Pertama:
- 💊- Ceftriaxone 1-2 g IV tiap 24 jam + Doxycycline 100 mg IV/oral tiap 12 jam + Metronidazole 500 mg IV tiap 12 jam, ATAU
- 💊- Cefoxitin 2 g IV tiap 6 jam + Doxycycline 100 mg oral/IV tiap 12 jam.
- 💊Terapi parenteral dilanjutkan hingga 24-48 jam setelah perbaikan klinis nyata dan pasien tidak demam, lalu dilanjutkan terapi oral hingga genap 14 hari.
- 🔪Drainase Perkutan Terpandu USG / CT (Image-guided Aspiration): Pilihan lini pertama pada TOA unilocular > 5 cm yang tidak responsif antibiotik dalam 48-72 jam.
- 🔪Laparoskopi / Laparatomi Eksplorasi: Indikasi mutlak bila dicurigai ruptur TOA, terjadi sepsis peritoneal memburuk, atau kegagalan drainase perkutan.
- 🔪Tindakan bedah mencakup pencucian kavum pelvis, adhesiolisis, insisi dan drainase abses, atau salpingektomi / salpingo-ooforektomi.
Evaluasi ulang klinis dalam 72 jam pertama pasca-terapi rawat jalan. Skrining dan terapi semua pasangan seksual dalam 60 hari terakhir. Pantau risiko infertilitas dan anjurkan HSG evaluasi tuba setelah 3-6 bulan sembuh total.
Pedoman Resmi Terkait (PNPK / Society)
CDC Sexually Transmitted Infections Guidelines: Pelvic Inflammatory Disease (PID)
Rekomendasi berbasis bukti diagnosis dan terapi Pelvic Inflammatory Disease (PID) dan Abses Tubo-Ovarium (TOA): ambang klinis rendah untuk memulai terapi antibiotik empiris segera, rejimen rawat jalan (Sefriakson 500mg IM + Doksisiklin + Metronidazol oral x 14 hari), kriteria rawat inap parenteral (Sefotetan/Sefoksitin + Doksisiklin IV), dan penanganan infertilitas faktor tuba pascainfeksi.
Sumber ResmiLandmark Evidence Acuan (RCTs)
The Pelvic Inflammatory Disease Evaluation and Clinical Health (PEACH) Randomized Trial
Setelah pemantauan jangka panjang selama hampir 3 tahun, tidak ada perbedaan bermakna antara terapi rawat inap vs rawat jalan dalam hal angka kehamilan kumulatif (56.6% vs 54.4%), rekurensi PID (20.3% vs 19.7%), kehamilan ektopik (3.1% vs 3.2%), atau nyeri panggul kronis (42.0% vs 41.5%).