WONDERA ACADEMIC HEALTH SYSTEMEdisi Pendidikan PPDS & Spesialis
PNPK POGIFIGO 2023ACOG / RCOGPubMed Index
Homegeneral gynClinical Dossier
ICD-10: N93.9Severity: moderateDivisi: general gyn

Abnormal Uterine Bleeding (AUB) & FIGO PALM-COEIN Classification

Perdarahan Uterus Abnormal (PUA) & Klasifikasi FIGO PALM-COEIN

Sistem klasifikasi universal FIGO 2018 untuk etiologi perdarahan uterus abnormal pada wanita usia reproduksi tidak hamil, membedakan penyebab struktural (PALM) dari non-struktural (COEIN).

Etiologi & Patogenesis Molekuler

Klasifikasi Akronim FIGO PALM-COEIN:

Epidemiologi: Mempengaruhi 1 dari 3 wanita sepanjang hidupnya; merupakan alasan paling umum rujukan ginekologi rawat jalan dan penyebab utama anemia defisiensi besi pada wanita usia subur.
Kriteria Diagnostik Standar Baku
  • Penyebab Struktural (Dapat divisualisasi pada pencitraan / histopatologi - PALM):
  • - P: Polyp (Polip endometrium atau endoserviks).
  • - A: Adenomyosis (Invasi heterotopik stroma/kelenjar endometrium ke miometrium).
  • - L: Leiomyoma (Mioma uteri, diklasifikasikan menjadi Submukosa Lsm vs Lainnya Lo).
  • - M: Malignancy & Hyperplasia (Hiperplasia atipik EIN dan karsinoma endometrium/serviks).
  • Penyebab Non-Struktural (Tidak memiliki kelainan visual arsitektural - COEIN):
  • - C: Coagulopathy (Penyakit von Willebrand pada 10-20% remaja dengan PUA berat, defisiensi trombosit, hemofilia).
  • - O: Ovulatory dysfunction (Anovulasi, sindrom ovarium polikistik, hipotiroidisme, hiperprolaktinemia).
  • - E: Endometrial (Disfungsi primer vasokonstriksi lokal prostaglandin endometrium).
  • - I: Iatrogenic (Penggunaan antikoagulan, IUD tembaga, efek samping progestin).
  • - N: Not otherwise classified (Malformasi arteri-vena / AVM, endometritis kronis).

Alur Penyelidikan & Pemeriksaan Penunjang

1. First-Line Investigations
  • USG Ginekologi Transvaginal (TVS) mengukur ketebalan endometrium dan mengevaluasi junctional zone
  • Saline Infusion Sonohysterography (SIS) / Hidrosonografi membedakan polip vs mioma submukosa
  • Darah lengkap dan ferritin serum (menilai derajat anemia besi)
2. Pencitraan Lanjut (USG / MRI / CT)
  • Histeroskopi Diagnostik dengan biopsi endometrium terarah (baku emas evaluasi kavum uteri)
3. Laboratorium & Biomarker
  • Uji kehamilan beta-hCG (menyingkirkan komplikasi kehamilan)
  • Panel skrining koagulasi (vWF antigen, ristocetin cofactor) pada remaja
  • TSH dan Prolaktin serum

Algoritma Tata Laksana Komprehensif

Triase & Stabilisasi Awal:

Stabilisasi hemodinamik jika datang dalam kondisi PUA Akut Masif (perdarahan membanjiri pembalut > 1 pembalut/jam selama 2 jam berturut-turut).

Terapi Medikamentosa / Farmakologis:
  • 💊Tatalaksana PUA Akut Masif:
  • 💊1. Asam Traneksamat: 1 gram IV tiap 8 jam atau 1 gram oral tiap 6-8 jam (menurunkan fibrinolisis).
  • 💊2. Estrogen Konyugasi Ekstrak Intravena (Premarin): 25 mg IV tiap 4-6 jam hingga perdarahan berhenti (memicu vasospasme kapiler cepat dan re-epitelisasi endometrium).
  • 💊3. Progestin Oral Dosis Tinggi: Noretisteron asetat 5 mg oral tiap 8 jam selama 3-5 hari, kemudian diturunkan bertahap (tapering).
  • 💊Tatalaksana PUA Kronik Jangka Panjang:
  • 💊- Intrauterine Device Levonorgestrel (LNG-IUD 52 mg): Terapi lini pertama paling efektif (menurunkan volume darah haid hingga 90%, mengungguli terapi obat oral).
  • 💊- Kontrasepsi Oral Kombinasi (KOK) siklik atau kontinu.
  • 💊- Progestin oral siklik (Dydrogesterone 10-20 mg/hari atau Medroksiprogesteron asetat).
Intervensi Bedah & Prosedural:
  • 🔪Kuretase Hemostatik Diagnostik: Opsi darurat pada perdarahan hebat tak terkontrol atau pada wanita > 45 tahun untuk biopsi eksklusi keganasan.
  • 🔪Polipektomi / Miomektomi Histeroskopi: Baku emas reseksi polip dan mioma submukosa FIGO Tipe 0, 1, dan 2.
  • 🔪Ablasi Endometrium (Endometrial Ablation): Pilihan minimal invasif pada wanita yang tidak menginginkan fertilitas lagi tanpa patologi struktural ganas.
  • 🔪Histerektomi Total (TLH / TAH): Solusi kuratif definitif bila terapi medis gagal atau terdapat kontraindikasi terhadap terapi hormon.
Pemantauan & Evaluasi Lanjut (Follow-Up):

Pemberian terapi suplementasi besi (Besi Sukrosa IV atau Besi Fumarat/Sulfat oral) hingga feritin serum > 30-50 ng/mL.